Wednesday, February 23, 2011

BERSIKAP ADIL

           Setiap manusia adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya. Salah satu sikap yang wajib dimiliki oleh setiap pemimpin adalah bersikap adil kepada semua orang yang dipimpinnya. Bersikap adil kepada semua orang merupakan prilaku yang sangat disukai oleh Allah SWT sehingga Allah memasukkan pemimpin sedemikian itu ke dalam tujuh kelompok manusia yang akan dinaungi di bawah naungan-Nya kelak di Padang Mahsyar. Bahkan Allah SWT telah menyiapkan untuk mereka mimbar dari cahaya agar semua manusia menyaksikan ketinggian darjat mereka. Nabi SAW bersabda:

إن المقسطين عند الله منابر من نور: الذين يعدلون في حكمهم وأهليهم وما ولوا

“Orang-orang yang bersikap adil memiliki mimbar-mimbar dari cahaya di sisi Allah, iaitu orang-orang yang bersikap adil dalam memutuskan hukum, dalam keluarga, dan orang-orang yang menjadi bawahannya.”[1]

Mereka juga merupakan ahli-ahli syurga yang telah dipastikan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya:

أهل الجنة ثلاثة: ذو سلطان مقسط موفق، ورجل رحيم رقيق القلب لكل ذي قربى ومسلم، وعفيف متعفف ذو عيال

“Penduduk syurga (terbahagi kepada) tiga kelompok: penguasa yang adil dan mendapat taufik, laki-laki yang penyayang dan lembut hatinya kepada kerabat dan setiap muslim, dan orang miskin yang menjaga diri dan kehormatannya.”[2]

Pengertian Adil
Syeikh Abdurahman Habannakah mendefinisikan adil sebagai berikut: “Memberikan setiap pemilik hak sesuatu yang sama atau mirip dengan haknya tanpa kurang atau lebih.” Atau dapat juga kita definisikan dengan “menyamakan antara perilaku dengan tuntutan hak tanpa kurang atau lebih.”[3] Beliau juga menegaskan bahawa keadilan tidak selalu bermakna memberikan dengan sama rata sebab perbuatan seperti itu dapat melahirkan sikap zalim atas nama keadilan. Perbuatan ini sama sahaja dengan memberikan nilai yang sama antara emas dan batu biasa padahal keduanya sangat berbeda harganya.[4]
Adil dapat terwujud hanya ketika seseorang menempatkan hak pada tempat yang seharusnya sehingga kadar hak itu dapat berbeda sesuai dengan keadaan pemiliknya. Sebagai contoh, seorang bapa yang adil pasti akan membedakan kadar wang yang akan ia berikan kepada anaknya yang telah berusia remaja dengan kadar yang ia berikan kepada anaknya yang masih di tadika atau di sekolah rendah. Ini kerana keperluan hidup kedua-dua anaknya ini berbeza antara satu sama lain.
Berlaku adil dituntut dalam semua bidang kehidupan seperti di dalam keluarga, sekolah, masyarakat, tempat bekerja, bahkan kita dituntut menerapkan keadilan kepada diri kita sendiri. Perincian praktikal dari semua sudut ini dapat kita temui dalam akhlak Rasulullah SAW berikut ini:

Keadilan Rasulullah Saw
Rasulullah Saw adalah makhluk Allah yang paling mampu mendirikan kebenaran dan menegakkan keadilan kepada dirinya, keluarganya dan masyarakat. Keadilan kepada dirinya terlihat ketika beliau memberikan hak-hak tubuhnya yang memerlukan makanan, minuman dan istirehat. Beliau juga menikah dan menganjurkan umatnya untuk menikah. Ketika beliau mendengar seorang sahabatnya bersumpah untuk selalu berpuasa dan tak pernah berbuka selama-lamanya, seseorang yang lain bersumpah untuk bertahajjud dan tidak tidur selama-lamanya, seorang yang lain berjanji tidak akan menikah selama-lamanya, Rasulullah SAW segera melarang mereka dan menasihati, “Saya adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah. Tapi saya tetap berpuasa dan berbuka, bertahajjud dan tidur, dan saya juga menikah. Barangsiapa yang tidak mengikuti sunnahku maka ia bukan dari kalanganku.”[5]
Rasulullah SAW juga sangat membenci ketidak-adilan yang berlaku dalam keluarga. Oleh karena itu, beliau mewajibkan kepada setiap suami yang beristerikan lebih dari satu agar berlaku adil dengan isteri-isterinya. Suami itu diharamkan mengkhususkan salah satu isterinya dengan satu pemberian –harta atau keramahan- yang tidak diberikan kepada isteri-isterinya yang lain. Beliau bersabda:

من كانت له امرأتان فمال إلى إحداهما جاء يوم القيامة وشقه مائل

“Barangsiapa yang memiliki dua isteri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan miring salah satu sisi tubuhnya.”[6]

Ketika Basyir memberitahu Nabi SAW bahwa ia memberi anaknya Nu’man sebuah harta, baginda bertanya, “Semua anakmu kamu berikan juga?” Basyir menjawab, “Tidak.” Rasulullah SAW bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu.”[7] Anas bin Malik bercerita: suatu hari ketika seorang lelaki duduk bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba anak laki-lakinya datang. Orang itu segera mengambil anak itu, menciumnya lalu mendudukkannya di pangkuan. Tidak lama kemudian datang anak perempuannya, orang itu segera mengambilnya lalu mendudukkannya di samping tempat duduknya. Rasulullah SAW lalu bersabda, “Kamu tidak adil kepada kedua anakmu ini.”[8]
Keadilan dalam masyarakat pula terlihat dalam ketegasan Rasulullah SAW menegakkan keadilan tanpa memandang identiti dan status pelakunya. Beliau bahkan pernah bersabda, “Andai Fatimah binti Muhammad mencuri, aku akan memotong tangannya.”[9] Pada perang Badar, Rasulullah SAW melihat Sawad bin Ghaziah keluar dari barisan. Beliau lalu menusuk perutnya dengan kayu dan bersabda, “Kembali ke barisanmu.” Sawad berkata, “Engkau telah menyakitiku wahai Rasulullah. Allah telah mengutusmu dengan kebenaran dan keadilan, maka berikanlah hakku untuk membalasmu.” Rasulullah SAW segera membuka perutnya dan berkata, “Ambillah hakmu.” Sawad lalu memeluk dan mencium perut Nabi SAW. Ternyata ia hanya menginginkan mendapat kesempatan mencium kulit Nabi SAW dan mendapatkan doanya.[10]

Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kita semua kekuatan untuk melakukan kesemua sifat dan sikap mulia yang ditunjukkan oleh Rasulullah SAW, khususnya anak-anak pelajar Institut Tahfiz Al-Quran Profesional, dan bersama kita berusaha membimbing orang-orang yang di bawah jagaan kita ke arah keredhaan Allah SWT insyaallah. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.



[1] Hadits riwayat Muslim.
[2] Hadits riwayat Muslim.
[3] “Al-Akhlaq Al-Islamiah wa Ususuha” 1/622.
[4] “Al-Akhlaq Al-Islamiah wa Ususuha” 1/625.
[5] Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim.
[6] Hadits riwayat Ahmad.
[7] Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim.
[8] Hadits riwayat Al-Baihaqi.
[9] Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim.
[10] “Al-Sirah Al-Nabawiyah” Dr Muhamad Abu Syahbah 2/139.